spot_img

Kapolres Kiki Tak Gentar Lucuti Senpi Rakitan Milik SAD, Ada Pihak yang Mulai Terusik

Oleh : Yanto Bule

Redakaijambi.com.Merangin- Minggu Minggu terakhir Kapolres menjadi sumber pemberitaan di sejumlah kanal media,baik media cetak, online dan media elektronik,sejumlah gebrakan di lakukan Kapolres Merangin AKBP Kiki Firmansyah.

Tindakan tegas yang memburu pelaku penyerangan di Mapolres Merangin,yang di lakukan oleh suku anak dalam kelompok temenggung jang, menjadi langkah awal untuk menertibkan penyalahgunaan senjata api,yang di kuasai oleh sejumlah suku anak dalam di kabupaten Merangin.

Dengan himbauan dan pendekatan humanis, membuat puluhan temenggung yang memimpin kelompoknya,menyerahkan senjata api rakitan dengan suka rela.

Bahkan dengan strategi jitu,patroli sekala besar yang di lakukan polres Merangin bersama Satbrimobda Polda Jambi,menjadi obat ampuh bagi para suku anak dalam yang memiliki senpi rakitan, sedikitnya ada hampir 100 pucuk senjata api rakitan berhasil di sita,untuk tidak di pergunakan lagi.

Namun langkah Kapolres Merangin AKBP Kiki Firmansyah, ternyata membuat pihak pihak yang memiliki kepentingan terhadap suku anak dalam menjadi gerah,bahkan dengan akun fake mulai membuat framing negative terhadap apa yang tengah di lakukan Kapolres Merangin dalam penegakan hukum.

Bahkan keberanian Kapolres Merangin, bikin gempar propinsi Jambi dan menjalar ke sejumlah kabupaten yang memiliki masyarakat suku anak dalam,dan ini yang membuat pihak pihak yang merasa kurang nyaman, terhadap dampak positif dari tindakan kan tegas yang di lakukan AKBP Kiki Firmansyah ,menjadi ancaman bagi orang atau kelompok yang mendapatkan untung dari keberadaan suku anak dalam.

Tetapi keberanian Kapolres yang di rasakan masyarakat Merangin, terbukti membuat situasi keamanan dan ketertiban masyarakat jadi kondusif sehingga dukungan dari berbagai elemen masyarakat berdatangan ke polres Merangin,bukan hanya bentuk dukungan melalui video,namun ada juga dukungan yang di kirimkan ke polres Merangin dengan mengirim papan bunga yang menghiasi jalur depan Mapolres Merangin.

Bahkan Gubernur Jambi,secara khusus menyampaikan dukungan dan ucapan selamat atas kinerja dan keberanian Kapolres Merangin,yang menindak tegas serta melucuti senjata api rakitan yang berada di tanggan anak suku dalam yang tinggal di Merangin,demi rasa aman masyarakat merangin.

Hal ini menggambarkan betapa banyak konflik sosial terjadi antara kelompok suku anak dalam dengan perusahaan,bahkan ada anggota TNI yang jadi korban pengeroyokan di lahan perusahaan di kabupaten Sarolangun,oleh sekelompok suku anak dalam,begitu juga di kabupaten Merangin puluhan orang suku anak dalam dari satu kelompok temenggung menyerang kantor Bupati Merangin,dan terakhir tindakan sekelompok suku anak dalam berani menyerang Mapolres Merangin dengan menembakkan senjata api rakitan mereka,gegara jadi beking kegiatan peti ilegal.

Sejumlah peristiwa tersebut seharusnya jadi pelajaran bersama, bagaimana jika ada konflik antara suku anak dalam dan masyarakat,kemana warga harus mengadu jka instansi pemerintah saja sudah tidak di anggap bagi kelompok suku anak dalam.

Di lain pihak, orang ataupun lembaga yang “mengaku” peduli dengan nasib dulu anak dalam tak lagi bisa berbuat banyak,sebab jualan dengan kemiskinan struktural dan hilangnya ruang hidup warga suku anak dalam,seolah olah di timbulkan karena ketegasan Kapolres Merangin.

Sungguh ironis fakta yang terjadi hari ini , Tudingan dengan tujuan tertentu terus di sebarkan,ruang hidup suku anak dalam yang dulunya tinggal di hutan kini berubah jadi perkebunan dan sudah puluhan tahun terjadi, dan itu di lakukan oleh korporasi bukan oleh Kapolres Merangin hari ini,Pola hidup hedonisme merambah hampir di setiap kelompok suku anak dalam, bahkan di sejumlah kantong kantong suku anak dalam,ada yang menerima penggadaian baik roda dua,roda empat bahkan alat berat.

Ini menunjukkan bahwa kehidupan suku anak dalam jauh lebih mapan di banding dengan warga “terang”,bahkan untuk sekedar kendaraan saja mereka jauh lebih layak dan fakta yang tidak bisa di hindari di kabupaten Merangin, rata rata keluarga suku anak dalam masuk pada sesuk tujuh,ini artinya tingkat kemapanan ekonomi mereka sudah jauh lebih baik, fakta ini sangat bertolak belakang dengan kalimat suku yang termarjinalkan.

Mari kita bahas ,hal paling sederhana saja, dengan di tulis di media masa aksi “suku anak dalam” ,yang menyerang polres Merangin saja sudah berdampak luas banyak kelompok suku anak dalam tidak terima dan merasa jadi korban,sebab tidak semua suku anak dalam anarkis,tetapi haruslah di tulis kelompok suku anak dalam mana yang menyerangnya.

Mestinya bagi pihak yang mulai gerah, introspeksi saja apa yang sudah di lakukan untuk membina mereka,langkah konkret apa yang sudah di tempuh untuk membuat kehidupan mereka lebih layak,ruang hidup sudah berubah cara bertahan hidup pun berubah,jangan terjebak dengan kepentingan kelompok,sehingga fakta sebenarnya di kaburkan.

Dukung upaya pemerintah daerah dan institusi yang tengah memanusiakan mereka, itu lebih baik daripada menyalahkan pihak lain.

Keberanian Kapolres Merangin hanyalah letupan kecil dari Merangin,tetapi menggelegar di ruang publik,hari ini banyak mata tertuju ke polres Merangin,langkah berani melakukan penegakan hukum secara tegas dan terukur..***

Pilihan Redaksi
spot_img
spot_img

Berita Terbaru