Redaksijambi.com (MERANGIN) – Setiap tahun, ajang Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) selalu melahirkan para juara. Namun pada penyelenggaraan tahun 2026, yang mencuri perhatian bukan hanya kemenangan itu sendiri, melainkan bagaimana kemenangan tersebut lahir. Bukan dari anak-anak yang telah lama berkecimpung di dunia tari, melainkan dari tiga siswi sekolah dasar yang memulai semuanya dari nol.
Mereka adalah Renata Stevani, Aqila Putri Khansa, dan Alifa Billatullah, siswi SD Negeri 028/VI Sumber Agung, Kecamatan Margo Tabir. Penampilan ketiganya berhasil memukau dewan juri pada ajang FLS3N Jenjang Pendidikan Dasar tingkat Provinsi Jambi melalui tari kreasi yang memadukan unsur tradisional dengan penghayatan yang kuat, yang digelar secara daring (dalam jaringan) atau online.
Atas penampilan tersebut, tim tari SDN 028/VI Sumber Agung berhasil meraih Juara I dan berhak mewakili Provinsi Jambi pada FLS3N tingkat nasional.
Di balik gemerlap panggung dan ucapan selamat kemenangan, tersimpan kisah perjuangan yang tak banyak diketahui. Ketiga siswi itu bukan penari yang sejak kecil dibina di sanggar atau terbiasa mengikuti berbagai perlombaan. Mereka justru belajar menari dari dasar melalui proses latihan yang dijalani bersama sekolah.
Alih-alih mencari peserta didik yang telah memiliki kemampuan menari, SDN 028/VI Sumber Agung memilih membangun kesempatan. Sekolah percaya setiap anak memiliki potensi untuk berkembang apabila diberi ruang, kepercayaan, dan pendampingan yang tepat.
Keyakinan itulah yang menjadi kekuatan selama proses pembinaan. Setiap hari dilalui dengan latihan yang disiplin, memperbaiki setiap gerakan, membangun kekompakan, hingga akhirnya mampu tampil percaya diri dan memukau dewan juri di tingkat provinsi.
Kepala SDN 028/VI Sumber Agung, Desinta Rasyani, S.Pd., Gr., mengaku keberhasilan tersebut merupakan buah dari kerja keras seluruh tim yang selama dua tahun terakhir berkomitmen mengembangkan potensi seni tari di sekolah.
“Alhamdulillah, semua ini berkat kerja keras pelatih dan pendamping tari kami yang totalitas. Anak-anak berhak mendapatkan kabar bahagia ini. Proses yang cukup melelahkan untuk kami yang baru dua tahun ini mengembangkan potensi murid di cabang seni tari. Sungguh sebuah prestasi yang membanggakan bagi saya dan seluruh majelis guru,” ujarnya saat dihubungi melalui WhatsApp, Senin (27/7/2026).
Menurut Desinta, keberhasilan tersebut bukan semata-mata tentang meraih gelar juara. Yang lebih penting adalah bagaimana sekolah mampu membuka ruang bagi setiap peserta didik untuk berkembang sesuai potensi yang dimiliki, baik di bidang akademik maupun nonakademik.
“Sekolah harus memfasilitasi murid untuk berkompetisi di bidang akademik maupun nonakademik. Seperti pada seni tari, kami tidak memilih murid berdasarkan latar belakang ekonominya, tetapi sesuai potensinya. Kami memberi kesempatan kepada semua murid berkembang sesuai kebutuhan mereka,” tegasnya.
Komitmen tersebut diwujudkan dengan membiayai seluruh kebutuhan peserta selama mengikuti proses pembinaan. Mulai dari latihan, kostum, hingga akomodasi, seluruhnya ditanggung sekolah melalui dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), sehingga orang tua tidak dibebani biaya.
“Semua kebutuhan kami biayai dari dana BOS. Orang tua tidak mengeluarkan biaya sedikit pun. Kami ingin anak-anak fokus berlatih dan mengembangkan bakatnya tanpa terbebani persoalan biaya,” tambahnya.
Kini, tantangan yang lebih besar telah menanti. Bersama dukungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Merangin, SDN 028/VI Sumber Agung mulai mempersiapkan pembinaan lanjutan agar Renata, Aqila, dan Alifa dapat tampil maksimal saat membawa nama Provinsi Jambi di tingkat nasional.
Kisah tiga siswi asal Kecamatan Margo Tabir ini menjadi bukti bahwa prestasi tidak selalu diawali oleh bakat yang sudah terasah. Terkadang, prestasi lahir dari keberanian sebuah sekolah untuk percaya kepada peserta didiknya, memberi mereka kesempatan untuk belajar, lalu mendampingi setiap langkah hingga mimpi itu benar-benar terwujud. (dEn)



