Ketika Diksi Melayu Menaklukkan Algoritma

Membaca Fenomena Wiko Antoni di Era Sastra Digital

Redaksijambi.com (Merangin) – Dari tanah Jangkat Timur di Kabupaten Merangin, sebuah nama perlahan mulai menarik perhatian dalam lanskap sastra kontemporer Jambi: Wiko Antoni. Akademisi, penyair, sekaligus kreator sastra digital ini menghadirkan bentuk baru dalam cara puisi diproduksi, dibaca, dan dipertunjukkan di era teknologi. Melalui perpaduan puisi, musik Melayu rock, visual sinematik, dan kecerdasan buatan (AI), Wiko menghadirkan karya yang tidak lagi berhenti sebagai teks di atas kertas, melainkan menjelma menjadi pengalaman audiovisual yang hidup.

Popularitasnya di media digital memunculkan perdebatan tersendiri. Sebagian kalangan mempertanyakan penggunaan teknologi AI dalam proses kreatif yang ia bangun. Di tengah maraknya karya instan berbasis algoritma, muncul pertanyaan: apakah Wiko Antoni sekadar penyair digital yang mengikuti tren, atau justru seorang visioner yang sedang meredefinisi masa depan sastra Melayu?

Pertanyaan itu menjadi menarik ketika rekam jejak kepenyairannya ditelusuri lebih jauh. Wiko Antoni bukanlah sosok yang lahir tiba-tiba dari ledakan media sosial. Proses kreatifnya telah melalui perjalanan panjang dan kurasi sastra yang tidak singkat. Tahun 2012 menjadi salah satu titik awal penting ketika puisinya lolos kurasi Asro Al Murtawy dalam antologi Menguak Senyap. Sejak saat itu, namanya mulai tumbuh dalam ruang sastra yang serius.

Perjalanan tersebut terus berlanjut. Pada tahun 2025, puisinya kembali lolos kurasi sastrawan senior Sulaiman Juned dalam antologi nasional Air Mata Sumatera 2. Pada tahun yang sama, karyanya juga masuk dalam proyek lintas negara Tanda Cinta untuk Sumatera yang melibatkan Indonesia, Singapura, dan Turki di bawah kurasi Ahmadun Yosi Herfanda. Memasuki tahun 2026, puisinya kembali memperoleh apresiasi dengan masuk dalam jajaran 10 Puisi Pilihan kurator Nankwo Cristian.

Rekam jejak tersebut memperlihatkan bahwa fondasi kepenyairan Wiko Antoni dibangun melalui proses panjang, bukan semata-mata viralitas digital. Basis akademiknya di Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang dan Universitas Merangin turut memperkuat karakter estetik dan intelektual dalam karya-karyanya.

Di tengah perdebatan mengenai AI dan kreativitas manusia, Wiko Antoni justru menawarkan sebuah filosofi yang menarik. Kepada para mahasiswanya, ia kerap menyampaikan sebuah kredo sederhana namun tajam:

“Jadikan AI kuratormu, jangan jadi kurator untuk AI.”

Kalimat ini memuat kritik sekaligus arah baru bagi dunia kreatif modern. Menurutnya, manusia tidak boleh kehilangan posisi sebagai pusat kesadaran kreatif. Penyair tidak seharusnya menjadi sekadar penyunting hasil kerja mesin. Sebaliknya, manusialah yang harus tetap memegang gagasan, rasa, pengalaman batin, dan kedalaman makna, sementara AI diposisikan sebagai alat bantu untuk memperluas kemungkinan artistik.

Dalam konteks ini, AI bukan pengganti penyair, melainkan ruang uji bagi kreativitas manusia itu sendiri.

Keunikan terbesar Wiko Antoni justru terletak pada keberhasilannya mempertahankan lokalitas di tengah arus globalisasi digital. Ketika banyak kreator menggunakan AI untuk meniru estetika luar, Wiko memilih menjadikan teknologi sebagai medium untuk memperkuat identitas Melayu dan lanskap budaya Jangkat Timur.

Ia menghadirkan diksi yang berakar pada spiritualitas Melayu, aroma tanah Sumatra, petatah-petitih, hingga kegelisahan manusia modern dalam satu ruang estetik yang baru. Puisi-puisinya tidak kehilangan ruh tradisi meski dipertemukan dengan teknologi mutakhir. Di tangan Wiko Antoni, AI tidak digunakan untuk menghapus identitas lokal, melainkan untuk memperluas jangkauan suara lokal ke ruang global.

Di sinilah letak penting fenomena Wiko Antoni. Ia menunjukkan bahwa sastra daerah tidak harus terjebak menjadi artefak masa lalu yang berdebu di rak perpustakaan. Sastra Melayu masih dapat hidup, bergerak, dan berdialog dengan generasi baru melalui medium digital yang lebih dekat dengan kehidupan hari ini.

Wiko Antoni bukan sekadar penyair digital yang lahir dari tren sesaat. Ia merepresentasikan lahirnya generasi baru sastrawan yang mampu berdiri di antara tradisi dan teknologi tanpa kehilangan identitas kulturalnya. Dari Jangkat Timur, ia memperlihatkan bahwa diksi lokal masih memiliki daya hidup yang kuat untuk menembus panggung dunia—bahkan di tengah dominasi algoritma dan kecerdasan buatan.

Pada akhirnya, mungkin yang sedang dilakukan Wiko Antoni bukan hanya menulis puisi. Ia sedang membangun jembatan antara akar tradisi Melayu dan masa depan sastra digital Indonesia. (dEn)

Pilihan Redaksi
spot_img

Berita Terbaru