Redaksijambi.com (MERANGIN) – Polemik pasca pelantikan dan rotasi kepala sekolah di Kabupaten Merangin kembali memunculkan babak baru. Kali ini, Budi Yanzen mengaku siap menjadi Justice Collaborator untuk mengungkap berbagai hal yang diketahuinya terkait proses yang berlangsung menjelang pelantikan kepala sekolah.
Kepada wartawan melalui sambungan WhatsApp, Budi Yanzen mengaku merasa tertekan dan diintimidasi setelah dipanggil oleh Kabid Dikdas untuk mengklarifikasi pernyataannya yang sebelumnya disampaikan dalam forum DPRD Merangin.
“Saya dipanggil Kabid Dikdas, Tabri keruangannya untuk mengklarifikasi pernyataan saya waktu di DPR, jika mau saya akan diberikan SK Kepala Sekolah,” ungkap Budi Yanzen.
Pernyataan tersebut menurut Budi menimbulkan tanda tanya besar. Ia menilai jabatan kepala sekolah tidak seharusnya menjadi sesuatu yang bisa dinegosiasikan atau dijadikan alat tawar-menawar.
“Masak kepala sekolah bisa ada tawar menawar, ini tidak beres lagi,” lanjutnya.
Budi juga menegaskan bahwa dirinya tidak lagi mempersoalkan jabatan kepala sekolah. Baginya, yang terpenting adalah menyampaikan apa yang menurutnya perlu diketahui publik.
“Saya siap berenti jadi kepala sekolah, dak jadi kepala sekolah jadi juga saya tidak butuh lagi, SK Kepala Sekolah tawar menawar kan aneh,” tegasnya.
Tak hanya itu, Budi Yanzen juga mengungkapkan pengakuan yang cukup mengejutkan. Ia mengaku pernah menyerahkan uang sebesar Rp15 juta kepada seseorang yang disebutnya berinisial E sebelum pelantikan kepala sekolah dilaksanakan.
“Saya pernah menyetor ke salah satu berisial E Rp 15 juta sebelum pelantikan,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Budi menyatakan dirinya siap memberikan keterangan apabila nantinya persoalan ini ditindaklanjuti oleh aparat penegak hukum. Bahkan, ia mengaku siap menjadi Justice Collaborator untuk membantu mengungkap fakta-fakta yang diketahuinya.
Menurutnya, langkah tersebut penting dilakukan agar seluruh persoalan yang kini menjadi perbincangan publik dapat dibuka secara terang-benderang dan tidak menimbulkan berbagai spekulasi di tengah masyarakat.
Pernyataan Budi Yanzen ini dipastikan akan semakin menyita perhatian publik, mengingat polemik rotasi dan pelantikan kepala sekolah di Kabupaten Merangin hingga kini masih menuai berbagai tanggapan dari sejumlah pihak.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak yang disebut dalam keterangan Budi Yanzen maupun pejabat terkait lainnya belum memberikan tanggapan resmi. Redaksi masih berupaya melakukan konfirmasi guna mendapatkan penjelasan dan klarifikasi dari seluruh pihak yang berkaitan dengan pernyataan tersebut sesuai prinsip keberimbangan pemberitaan. (Tim)

