Redaksijambi.com (Merangin) — Universitas Merangin (UM) Fest 2026 bukan sekadar agenda kampus tahunan. Festival yang digelar di Aula Kampus Talang Kawo, Kamis (22/1/2026), ini menjelma menjadi ruang pertemuan antara budaya, kreativitas anak muda, dan semangat kewirausahaan, dengan Generasi Z sebagai pemeran utamanya.
Festival yang dibuka langsung oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Merangin, Zulhifni, mengusung semangat “Adat Dijunjung, Budayo Kito Jago”—sebuah pesan sederhana namun relevan di tengah derasnya arus modernisasi.
Di hadapan mahasiswa dan pelajar, Zulhifni menekankan bahwa kemajuan tidak harus menghapus identitas. Menurutnya, generasi muda justru memiliki peran penting menjaga akar budaya agar tetap hidup dan berkembang mengikuti zamannya.

“UM Fest ini bukan hanya perayaan seni, tapi cara merawat jati diri. Generasi Z perlu kuat secara pengetahuan, tapi juga kokoh pada budaya,” ujarnya.
Selama dua hari, 21–22 Januari 2026, UM Fest diisi berbagai kegiatan yang melibatkan pelajar dan mahasiswa. Lomba tari tingkat SD dan SMA menjadi salah satu magnet utama, menghadirkan penampilan-penampilan kreatif yang menunjukkan bahwa budaya lokal masih relevan dan diminati generasi muda.
Pelibatan pelajar sejak usia dini dinilai sebagai langkah strategis untuk membangun kepercayaan diri sekaligus menanamkan karakter berbudaya sejak bangku sekolah.
Tak hanya seni, UM Fest 2026 juga memberi ruang bagi mahasiswa untuk menampilkan produk UMKM dan kreativitas wirausaha, memperlihatkan bahwa kampus tak hanya menjadi pusat akademik, tetapi juga laboratorium ide dan kemandirian ekonomi.
Di bidang literasi, acara ini turut diwarnai peluncuran buku antologi cerpen karya penulis lokal, yakni “Betandang” karya Bayu Kumara dan Yanto Bule, serta “Surat-surat Sunyi”. Kehadiran karya sastra tersebut memperkuat posisi UM Fest sebagai ruang ekspresi kreatif lintas bidang.
“Ini bukti bahwa imajinasi dan gagasan penulis lokal hidup dan berkembang. Kita ingin Merangin dikenal sebagai daerah yang ramah terhadap literasi dan kreativitas,” kata Zulhifni.
Sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi di bidang seni dan budaya, Pemerintah Kabupaten Merangin memberikan apresiasi kepada Febra Muyu Ari, Wiko Antoni, dan Bayu Kumara, yang dinilai konsisten menjaga denyut kesenian daerah.
Festival ini turut dihadiri sejumlah tokoh daerah, di antaranya Ketua TP PKK Merangin Lavita Mudahar Syukur, Asisten III Setda Hennizor, Plt. Kadikbud Juhendri, Rektor Universitas Merangin Dr. Yesi Elfisa beserta jajaran, Ketua Dewan Kesenian Merangin Asraf Almutawir, Ketua KNPI Andi Putra, serta Kasat Binmas Polres Merangin Karto.
UM Fest 2026 ditutup dengan penyerahan penghargaan kepada para pemenang lomba tari, menandai berakhirnya festival yang tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga meninggalkan pesan kuat: budaya akan terus hidup selama generasi mudanya mau merawatnya. (dEn)

