Lapas Sarolangun Siaga Asap, Kesehatan Warga Binaan Jadi Prioritas

Redaksijambi.com (Sarolangun) — Dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Jambi menjadi perhatian Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Sarolangun. Untuk mencegah gangguan kesehatan, khususnya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), jajaran Lapas Sarolangun membagikan masker serta meningkatkan pemantauan kesehatan warga binaan pemasyarakatan (WBP) dan petugas.

Langkah antisipatif ini dilakukan atas arahan Kepala Lapas Kelas IIB Sarolangun, Ibnu Faizal, Amd.IP., S.Sos., sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan seluruh penghuni dan petugas di tengah kondisi udara yang terdampak asap karhutla.

Tak hanya membagikan masker, Lapas Sarolangun juga mengoptimalkan pelayanan kesehatan melalui Klinik Pratama yang dipimpin dr. Lia Utami. Bersama tim medis, ia rutin mendatangi kamar-kamar hunian untuk memeriksa kondisi warga binaan, mengidentifikasi keluhan sejak dini, serta memastikan warga binaan yang membutuhkan penanganan medis dapat segera ditindaklanjuti.

Melalui pendekatan jemput bola ini, pelayanan kesehatan diharapkan semakin mudah diakses. Pemeriksaan langsung di kamar hunian juga memungkinkan petugas medis mengetahui lebih cepat jika ada warga binaan yang mengalami gangguan kesehatan.

Kepala Lapas Kelas IIB Sarolangun, Ibnu Faizal, menegaskan bahwa kesehatan warga binaan dan petugas menjadi prioritas, terlebih di tengah kondisi lingkungan yang berpotensi memicu gangguan pernapasan.

“Di tengah kondisi kabut asap akibat karhutla, kami mengambil langkah antisipatif dengan membagikan masker kepada warga binaan dan petugas serta meningkatkan pemantauan kesehatan. Kami ingin memastikan seluruh warga binaan tetap mendapatkan pelayanan yang layak dan setiap keluhan kesehatan dapat ditangani secara cepat dan tepat,” ujarnya.

Ia menambahkan, pencegahan dan deteksi dini perlu dilakukan secara konsisten. Karena itu, seluruh jajaran diminta meningkatkan kepedulian terhadap kondisi kesehatan di lingkungan lapas agar potensi gangguan kesehatan dapat segera diketahui dan ditangani.

Sementara itu, dokter Klinik Pratama Lapas Sarolangun, dr. Lia Utami, menjelaskan bahwa paparan asap dapat mengganggu saluran pernapasan sehingga perlu diantisipasi melalui pemantauan kesehatan secara berkala.

“Kami melakukan pemeriksaan langsung ke kamar-kamar hunian untuk memantau kondisi warga binaan dan mengetahui lebih awal apabila terdapat keluhan kesehatan. Jika ditemukan gejala yang mengarah pada gangguan pernapasan, kami akan melakukan pemeriksaan dan memberikan penanganan sesuai kondisi medis masing-masing,” jelasnya.

Ia juga mengimbau warga binaan dan petugas untuk menggunakan masker saat kualitas udara memburuk, membatasi aktivitas di luar ruangan jika memungkinkan, serta segera melaporkan keluhan seperti batuk, iritasi tenggorokan, atau sesak napas kepada petugas kesehatan.

Melalui pembagian masker dan pemantauan kesehatan secara berkala, Lapas Kelas IIB Sarolangun berupaya meminimalkan dampak kabut asap sekaligus memastikan hak kesehatan warga binaan tetap terpenuhi.

Di tengah ancaman asap karhutla, kesiapsiagaan menjadi langkah penting untuk melindungi kesehatan seluruh penghuni dan petugas. Lapas Sarolangun pun terus mengedepankan upaya pencegahan, deteksi dini, dan pelayanan kesehatan yang responsif agar kondisi kesehatan di lingkungan lapas tetap terjaga. (dEn)

Pilihan Redaksi
spot_img
spot_img

Berita Terbaru