Redaksijambi.com.,- Meskipun terlihat sederhana, mangrove memiliki peran yang sangat penting bagi lingkungan dan kehidupan manusia, khususnya masyarakat pesisir. Mangrove berfungsi sebagai pelindung alami pantai dari abrasi, gelombang besar, bahkan tsunami. Selain itu, mangrove menjadi habitat berbagai jenis ikan, udang, dan kepiting. Keunikan mangrove terletak pada kemampuannya bertahan di lingkungan yang ekstrem, seperti air asin, tanah berlumpur, dan kondisi pasang surut yang terus berubah. Akar mangrove yang kuat dan kompleks membuatnya mampu menahan tanah agar tidak mudah terkikis. Oleh karena itu, mangrove sering disebut sebagai “benteng alami” wilayah pesisir. Di sisi lain, mangrove memiliki peran penting dalam mengurangi dampak perubahan iklim. Mangrove mampu menyerap dan menyimpan karbon dalam jumlah besar, bahkan lebih tinggi dibandingkan hutan daratan. Hal tersebut menjadikan mangrove bagian penting dalam konsep Ekonomi Biru, yaitu pembangunan ekonomi yang tetap menjaga kelestarian lingkungan laut dan pesisir.
Provinsi Jambi memiliki luas mangrove sekitar 12.583 hektare. Dari jumlah tersebut, sebagian besar berada di Tanjung Jabung Timur (80%), sedangkan sisanya berada di Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Terdapat sekitar 77% mangrove berada dalam kondisi baik, namun sekitar 22% lainnya mengalami kerusakan berat. Hal ini mengindikasikan bahwa ekosistem mangrove di Jambi sedang menghadapi tekanan yang cukup serius. Kerusakan mangrove disebabkan oleh beberapa faktor, seperti abrasi pantai, penebangan, alih fungsi lahan menjadi tambak, dan dampak pembangunan permukiman. Abrasi pantai menjadi masalah utama karena terjadi ketidakseimbangan antara proses alam dan perlindungan vegetasi mangrove. Jika kondisi ini terus berlanjut, maka risiko bencana di wilayah pesisir akan semakin meningkat.
Mangrove memiliki banyak manfaat, baik dari aspek lingkungan maupun ekonomi. Aspek lingkungan misalnya, mangrove berfungsi sebagai pelindung pantai. Hutan mangrove dapat mengurangi energi gelombang laut hingga 50–99%, sehingga mampu melindungi daratan dari kerusakan akibat ombak besar. Selain itu, mangrove sebagai tempat berkembang biak (nursery ground) bagi berbagai jenis ikan dan biota laut lainnya. Banyak ikan yang dikonsumsi sehari-hari ternyata bergantung pada mangrove saat masih kecil. Oleh karena itu, jika mangrove rusak, maka hasil tangkapan nelayan juga akan menurun. Di samping itu, mangrove berperan dalam menjaga kualitas air. Akar mangrove mampu menyaring zat-zat berbahaya seperti limbah dan logam berat sehingga air laut tetap bersih dan sehat bagi kehidupan biota laut. Fungsi ini sangat penting bagi keberlanjutan usaha perikanan dan budidaya. Dari aspek ekonomi, mangrove mendukung kehidupan masyarakat pesisir. Banyak masyarakat menggantungkan hidupnya pada hasil laut yang dipengaruhi oleh keberadaan mangrove. Berikutnya, mangrove memiliki potensi dikembangkan sebagai ekowisata sehingga pada gilirannya dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. Peran lain dari hutan mangrove pada saat adanya perubahan iklim.
Mangrove berperan sebagai penyerap karbon atau “blue carbon”. Kemampuan ini menjadikan mangrove sebagai solusi alami untuk mengurangi pemanasan global. Oleh karena itu, menjaga mangrove berarti juga menjaga masa depan bumi.
Melihat potensi mangrove, banyak yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan ekonomi. Namun sebaliknya, masyarakat pesisir di Provinsi Jambi masih menghadapi berbagai tantangan ekonomi. Data menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan di wilayah pesisir masih relatif lebih tinggi yaitu mencapai 9,54% di Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan 10,14% di Kabupaten Tanjung Jabung Timur dan juah lebih tinggia dibandingkan rata-rata Provinsi Jambi hanya 7,19%. Hal ini disebabkan oleh pemanfaatan sumber daya mangrove yang belum optimal terutama sumber daya perikanan.
Berikutnya, meskipun tingkat pengangguran di wilayah pesisir relatif rendah, hal ini tidak selalu berarti kondisi ekonomi mereka baik. Banyak masyarakat bekerja di sektor informal, seperti nelayan tradisional atau usaha kecil, dengan tingkat pendapatan tidak menentu dan cenderung rendah. Dari aspek pendidikan dan kesehatan, masyarakat pesisir masih menghadapi keterbatasan. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di wilayah pesisir (69,93 dan 67,54) dan jauh lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata tingkat provinsi (73,43). Akses terhadap pendidikan dan layanan kesehatan masih terbatas. Masalah kesehatan seperti stunting juga masih cukup tinggi, terutama di beberapa wilayah pesisir Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Hal ini menunjukkan adanya masalah gizi dan akses pangan, meskipun wilayah pesisir sebenarnya kaya akan sumber protein dari hasil laut.
Mangrove memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan mendukung kehidupan masyarakat pesisir. Selain sebagai pelindung pantai, mangrove menjadi sumber kehidupan ekonomi dan berperan dalam mengatasi perubahan iklim. Namun, kondisi mangrove di Provinsi Jambi saat ini menghadapi berbagai ancaman, seperti kerusakan akibat aktivitas manusia dan tekanan alam. Jika tidak dikelola dengan baik, maka dampaknya tidak hanya berupa kerusakan lingkungan, tetapi juga berdampak terhadap kegiatan usaha masyarakat pesisir. Oleh karena itu, diperlukan upaya pengelolaan mangrove terpadu dan terintegrasi di antara aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial. Kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan pihak terkait sangat diperlukan dalam menjaga dan memulihkan ekosistem mangrove. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain rehabilitasi mangrove, pengembangan ekonomi berbasis mangrove (seperti ekowisata dan produk olahan), serta peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan dan pelatihan. Dengan pengelolaan yang baik, mangrove tidak hanya akan tetap lestari, tetapi juga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir secara berkelanjutan.***

