WBP Lapas Sarolangun Saksikan Film Mantagi: Air dan Manusia

Redaksijambi.com (SAROLANGUN) – Suasana berbeda terlihat di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Sarolangun. Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) mengikuti kegiatan nonton bareng film Mantagi: Air dan Manusia, karya sutradara Taufik Hidayat Rusti.

Film tersebut mengangkat tema budaya, lingkungan, serta pentingnya air bagi kehidupan manusia. Tak sekadar menjadi hiburan, pemutaran film ini menjadi ruang pembelajaran dan refleksi bagi warga binaan melalui pesan-pesan moral yang disampaikan dalam cerita.

Kehadiran Mantagi: Air dan Manusia di Lapas Sarolangun juga menjadi pengalaman tersendiri. Film tersebut untuk pertama kalinya diputar dan disaksikan secara langsung oleh warga binaan di lingkungan pemasyarakatan.

Selain Mantagi, warga binaan turut menyaksikan film Catatan Daun yang disutradarai Mas Bayu Kumara, Kasi Binapigiatja Lapas Kelas IIB Sarolangun.

Kepala Lapas Kelas IIB Sarolangun mengatakan, kegiatan pemutaran film menjadi salah satu bentuk kegiatan positif yang dapat memberikan pengalaman dan wawasan baru bagi warga binaan.

“Film bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga dapat menjadi media pembelajaran dan refleksi bagi warga binaan. Melalui cerita yang disampaikan, mereka dapat melihat berbagai persoalan kehidupan, kebudayaan, lingkungan, serta pentingnya menjaga air sebagai sumber kehidupan,” ujarnya.

Menurutnya, kegiatan seperti ini sejalan dengan semangat pembinaan di Lapas, dengan memberikan ruang bagi warga binaan untuk mendapatkan pengalaman positif selama menjalani masa pidana.

“Kami berharap kegiatan ini dapat membuka ruang kreativitas, menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan dan budaya, serta memberikan inspirasi kepada warga binaan bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk belajar, berubah, dan menghasilkan sesuatu yang positif,” tambahnya.

Salah seorang warga binaan mengaku mendapatkan pesan baru setelah menyaksikan film tersebut.

“Film ini bukan hanya bercerita tentang air, tetapi juga tentang kehidupan manusia dan bagaimana kita harus menghargai alam. Banyak pesan yang bisa kami ambil. Sesuatu yang selama ini dianggap biasa, seperti air, ternyata memiliki arti yang sangat besar bagi kehidupan,” ungkapnya.

Sementara itu, sutradara Mantagi: Air dan Manusia, Taufik Hidayat Rusti, mengaku memiliki kesan tersendiri karena karyanya dapat diputar di dalam Lapas Sarolangun.

“Ini menjadi pengalaman pertama bagi saya memutar film Mantagi di dalam Lapas. Ada perasaan yang berbeda ketika melihat film yang kami buat bisa bertemu dengan penonton dari ruang yang berbeda, termasuk warga binaan,” ujarnya.

Ia berharap pemutaran film tersebut tidak berhenti sebagai tontonan, tetapi menjadi ruang pertemuan antara karya seni, manusia, dan nilai-nilai kehidupan.

“Film bukan hanya tentang layar dan cerita. Film adalah ruang untuk bertemu, berdialog dan saling memahami. Ketika Mantagi diputar di Lapas Sarolangun, saya merasa film ini menemukan ruang pertemuan baru dengan penontonnya,” katanya.

Kegiatan tersebut mengusung tagline “Berteman, Bertemu Mantagi di Lapas Sarolangun.” Pesan ini menggambarkan bagaimana film dapat menjadi jembatan untuk mempertemukan manusia, budaya, lingkungan, dan berbagai latar kehidupan.

Melalui kegiatan ini, Lapas Sarolangun menunjukkan bahwa pembinaan warga binaan juga dapat dilakukan melalui seni dan budaya. Sebuah film bisa menjadi jendela untuk melihat kehidupan dari sudut pandang berbeda sekaligus menghadirkan ruang untuk belajar dan berefleksi. (dEn)

Pilihan Redaksi
spot_img
spot_img

Berita Terbaru