Redaksijambi.com.SAROLANGUN, – Kegemparan menyelimuti pembukaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-24 tingkat Kecamatan Batang Asai, Sabtu (04/07/2026) malam. Acara yang dibuka langsung oleh Wakil Bupati Sarolangun, Gerry Trisatwika, ini menjadi sorotan tajam setelah terungkap 10 dari total 23 desa di wilayah tersebut tidak mengirimkan kafilah, bahkan tanpa konfirmasi alasan ketidakhadirannya.
Dalam laporan penyelenggaraan yang disampaikan Camat Batang Asai sekaligus Ketua Umum Panitia Pelaksana, Hj. Asmiati, S.Pd.I, tercatat hanya 13 desa yang turut berpartisipasi pada ajang syiar Islam tahunan ini. Hingga saat ini, belum ada kejelasan mengapa 10 desa lainnya tidak mengirimkan utusan peserta.
Ketidakhadiran desa-desa tersebut pun langsung disorot Tokoh Masyarakat Batang Asai sekaligus Anggota DPRD Kabupaten Sarolangun, Tabroni, SE. Mantan Kepala Desa Sungai Salak Baru dua periode ini menyayangkan rendahnya partisipasi tersebut, apalagi diketahui setiap desa sudah mendapatkan alokasi anggaran untuk kegiatan MTQ.
“Kami sangat menyesalkan, dari 23 desa hanya 13 desa yang mengirimkan peserta. Berarti ada 10 desa yang tidak ikut berpartisipasi. Padahal kami mengetahui setiap desa sudah memiliki anggaran untuk kegiatan MTQ,” ujar Tabroni.
Ia meminta Pemerintah Daerah menaruh perhatian serius terhadap masalah ini. Menurutnya, hal ini tidak boleh dianggap sepele karena MTQ bukan sekadar lomba, melainkan agenda penting syiar Islam sekaligus sarana pembinaan generasi Qurani di tingkat akar rumput.
Merespons hal tersebut, Wakil Bupati Sarolangun Gerry Trisatwika meminta Camat Batang Asai segera melakukan pembinaan menyeluruh kepada seluruh desa, agar peristiwa serupa tidak terulang di tahun mendatang.
“MTQ ini kan kegiatan rutinitas tahunan. Saya berharap hal seperti ini tidak perlu terulang pada tahun berikutnya,” tegas Gerry saat memberikan sambutan pembukaan.
Pada kesempatan itu, Wabup Gerry juga mengingatkan Camat dan para Kepala Desa untuk konsisten menjalankan program unggulan daerah, yaitu Gerakan Masyarakat Cinta Masjid (Gemastajid Maju), Sholat Subuh Jumat keliling, serta kegiatan gotong royong.
“Gerakan ini selain bertujuan untuk memakmurkan masjid, juga untuk mempererat hubungan silaturahmi antara masyarakat, aparatur pemerintah, hingga tingkat desa,” pesannya.Tutupnya(red)



