HARI RAYA QURBAN ADALAH PUNCAK CINTA DAN PENGIKHLASAN HATI

Ditulis oleh: H.Sumardi S.Hi M.Pd
guru ponpes Ashabul yamin Bukittinggi. Alumni Pesantren Pesantren Syekh Maulana Qory (PPSMQ)

Redaksijambi.com.- Hari raya idul adha bukan sekadar hari raya, bukan sekadar hari berpakaian baru, bersilaturahmi, atau menikmati hidangan lezat. Lebih dari itu, ini adalah hari di mana langit seakan terbuka dan bertanya kepada setiap hati: “Apa yang paling engkau cintai di dunia ini? Dan apakah engkau sanggup, apakah engkau siap, melepaskannya, menyerahkannya, dan mengikhlaskannya semata-mata karena Allah?”

Kadang yang kita sembah bukanlah Allah, tetapi keinginan kita sendiri. Kadang yang kita cintai bukanlah akhirat, tetapi dunia yang fana ini.

Benar apa yang tertulis itu, wahai saudara sekalian. Dunia ini sering kali menjadi tempat kita menaruh harap, menumpuk cinta, dan mengejar segala yang tampak indah di mata. Kita berlomba mengumpulkan harta, membangun kemewahan, mengejar pangkat dan kedudukan, hingga sering kali hati kita terikat kuat oleh segala yang bersifat duniawi. Kita merasa bangga dengan apa yang kita miliki, lupa bahwa semua itu hanyalah titipan yang suatu saat akan kita tinggalkan. Bahkan tak jarang, keinginan dan hawa nafsu kita yang menjadi tuan, menggantikan kedudukan Allah di dalam hati.

Maka Idul Adha ini datang untuk menyadarkan kita, datang untuk memanggil kita kembali, datang untuk membersihkan hati dari segala sesembahan selain Allah.

Hari ini kita kembali membuka lembaran kisah agung, kisah yang membuat langit dan bumi pun terdiam takjub, kisah tentang puncaknya keimanan dan ketaatan, kisah Nabi Ibrahim dan putra tercinta beliau, Nabi Ismail ‘alaihimassalam. Sebuah peristiwa yang mengajarkan kepada kita: ketika cinta kepada Allah melebihi cinta kepada apa pun di dunia ini, melebihi keinginan diri, melebihi rasa memiliki, itulah derajat hamba yang sejati. Allah berfirman di dalam Kitab-Nya:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
(سورة الصافات: ١٠٢)

Artinya:
“Maka ketika anak itu sampai pada usia sanggup berusaha bersamanya, Ibrahim berkata: ‘Wahai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!’ Ia menjawab:

‘Wahai ayahku! Laksanakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’”

Di sini kita melihat, bukan hanya ketaatan seorang ayah yang siap menunaikan perintah Tuhan, tetapi juga kerelaan seorang anak yang menyerahkan dirinya sepenuhnya. Keduanya sama-sama meletakkan cinta Allah di urutan paling atas, melebihi cinta kasih sesama manusia, melebihi rasa memiliki, melebihi segalanya yang ada di muka bumi. Hingga akhirnya Allah mengganti pengorbanan itu dengan tebusan yang agung, dan mewariskan dua ibadah besar yang menjadi syariat kekal hingga akhir zaman: ibadah Kurban dan ibadah Haji ke Baitullah.

Berkaitan dengan kisah suci Nabi Ibrahim a.s. ini, mari kita renungkan makna ibadah Haji, yang pelaksanaannya beriringan dengan hari raya kurban ini. Banyak orang mengira bahwa orang yang pergi haji adalah orang yang paling kaya, orang yang paling mampu, atau orang yang paling mapan kehidupannya. Namun ketahuilah wahai saudaraku, orang yang pergi haji itu bukanlah karena ia kaya raya, bukan pula karena ia punya segalanya. Tetapi orang yang pergi haji itu adalah orang yang dipanggil Allah.

Betapa banyak manusia di muka bumi ini yang memiliki harta melimpah, mampu membeli tiket berkali-kali lipat, namun hatinya tak pernah tergerak, atau rencananya selalu tertunda hingga ajal menjemput. Dan betapa banyak pula hamba Allah yang hidupnya sederhana, hartanya pas-pasan, namun tiba-tiba hatinya bergetar, jalannya terbuka, dan ia pun berangkat meninggalkan segala kenyamanan dunia, hanya karena ia mendengar panggilan Ilahi.

Haji adalah jawaban hati atas undangan Allah. Ketika Allah memanggil, tak ada alasan yang mampu menahan langkah seorang hamba yang mencintai Tuhannya. Maka berangkatlah mereka dari segala penjuru bumi, mengenakan pakaian putih sederhana yang sama bagi raja maupun rakyat, bagi kaya maupun miskin, seraya melantunkan kalimat suci yang menggetarkan langit dan bumi:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ

“Labbaikallahumma labbaik… Labbaik laa syariika laka labbaik… Sesungguhnya segala puji, segala nikmat, dan segala kekuasaan hanyalah milik-Mu… Tiada sekutu bagi-Mu.”

Kalimat Labbaik itu adalah inti dari segala pengorbanan dan pengikhlasan. Sama seperti kurban, Haji pun mengajarkan kita untuk mengikhlaskan waktu, mengikhlaskan harta, mengikhlaskan tenaga, dan mengikhlaskan rasa nyaman di kampung halaman. Baik Haji maupun Kurban, keduanya berakar dari satu pohon yang sama: Cinta kepada Allah yang mengalahkan segalanya. Keduanya adalah bukti bahwa harta, nyawa, dan segala yang kita possess adalah milik Allah, dan ketika Dia meminta atau memanggil, maka kita menyerahkannya dengan hati yang lapang dan ikhlas.

Maka, kurban bukan sekadar menyembelih hewan. Kurban adalah simbol pengikhlasan atas segala yang kita miliki di dunia. Kurban adalah bukti nyata: harta, nyawa, kedudukan, keinginan diri, dan segala nikmat yang ada di tangan kita, semuanya milik Allah. Jika Dia meminta, maka kita serahkan dengan hati yang lapang.

Dan ingatlah wahai hadirin sekalian, hari ini kita diminta Allah bukan saja berqurban dengan hewan ternak semata, bukan pula sekadar menunaikan rukun Islam dengan berhaji ke Baitullah. Lebih dari itu, kita diperintahkan untuk berkorban dan menyembelih segala sifat duniawi yang meracuni hati. Kita harus mengurbankan kesombongan yang membuat kita merasa hebat karena jabatan atau kekayaan. Kita harus menyembelih keangkuhan yang membuat kita memandang rendah orang lain. Kita harus kurbankan sifat rakus dan tamak dalam mengumpulkan harta, rasa ingin dipuji, serta gengsi yang sering kali menjauhkan kita dari kebenaran. Kita harus menyembelih pula rasa cinta berlebih kepada dunia dan keinginan diri, agar tidak lagi kita menyembah selain Allah.

Dunia dan segala isinya hanyalah jembatan, bukan tempat tinggal kekal. Segala kemewahan, pangkat, dan kekuasaan yang kita banggakan hari ini, besok akan tertinggal di pembaringan, tidak ada yang kita bawa kecuali amal dan ketulusan hati.

Rasulullah ﷺ pernah mengingatkan kita dalam sebuah hadits yang sangat dalam maknanya:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَا إِلَى أَمْوَالِكُمْ، وَلَٰكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
(رواه مسلم)

Artinya:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk tubuhmu dan tidak pula kepada rupa wajahmu, serta tidak pula kepada harta bendamu. Akan tetapi Allah melihat kepada hati-hatimu dan amal-amalmu.” (HR. Muslim)

Maka, nilai sebuah kurban tidak diukur dari seberapa gemuk hewannya, tidak diukur dari seberapa mahal harganya, tidak diukur dari seberapa tinggi jabatan yang kita miliki, dan tidak diukur dari seberapa banyak harta yang kita keluarkan. Begitu pun nilai Haji, tidak dinilai dari kemewahan perjalanannya, melainkan dinilai dari ketulusan hati yang menjawab panggilan. Apakah kita berkurban atau berhaji karena ingin dipuji manusia? Apakah kita masih mencintai dunia lebih dari Allah? Atau kita sadar bahwa segala yang kita punya hanyalah titipan Allah, dan berkurban atau berhaji adalah cara mengembalikan sebagian kecilnya kepada Pemilik Segalanya?

Sungguh, keutamaan hari ini begitu luar biasa. Janganlah kita anggap remeh apa yang kita lakukan. Karena sesungguhnya, hewan kurban yang kita sembelih hari ini, kelak di hari kiamat yang dahsyat itu, akan datang menghadap Allah bersama pemiliknya. Hewan itu akan datang dengan segala keutuhannya, lengkap dengan bulu-bulunya, lengkap dengan rambut-rambutnya, lengkap dengan kulitnya, bahkan lengkap dengan kuku-kukunya.

Tidak ada satu pun bagian dari hewan kurban itu yang tertinggal atau hilang nilainya di sisi Allah. Setiap helai bulu, setiap tetes darah yang jatuh ke tanah, semuanya akan menjadi saksi yang berbicara lantang di hadapan Allah Yang Maha Adil. Hewan itu akan bersaksi dengan suara yang agung, seolah berkata:

“Ya Allah, aku datang mewakili si Fulan… Ya Allah, inilah kurbannya, terimalah ia dari si Fulan… Ya Allah, hamba-Mu si Fulan telah menyembelihku dengan ikhlas karena-Mu, melepaskan apa yang ia cintai di dunia demi ridha-Mu, dan tidak lagi menyembah selain-Mu… Ya Allah, ampunilah dia, selamatkanlah dia, dan angkatlah derajatnya.”

Itulah hakikat kurban. Darahnya mungkin jatuh ke tanah, namun pahalanya naik tinggi ke langit. Dagingnya mungkin dibagikan kepada yang membutuhkan, namun manfaatnya abadi tersimpan di sisi Allah, sementara kemewahan dunia akan sirna dan hilang tak berbekas.

Maka hari ini, mari kita tanya kembali kepada hati kita masing-masing: Kepada siapa kita tunduk? Apa yang kita sembah? Apa yang paling kita cintai? Apakah harta, jabatan, dan keinginan diri telah menguasai hati kita? Ataukah cinta kita kepada Allah telah melebihi segalanya, hingga bila dipanggil kita menjawab Labbaik, dan bila diperintah berkorban kita pun siap menyerahkan segalanya?

Dan mari kita bertekad: Seperti Nabi Ibrahim dan Ismail ‘alaihimassalam, kami pun siap melepaskan apa saja yang Engkau minta, Ya Allah… Kami berkurban hewan, kami kurbankan cinta dunia, kesombongan, keangkuhan, dan segala keinginan diri. Kami mengikhlaskan hati, kami menyerahkan segalanya, semata-mata hanya untuk-Mu, mengharap ridha-Mu.

Karena sesungguhnya, di hari raya kurban ini, kemenangan yang sesungguhnya bukanlah bagi mereka yang paling kaya atau paling berkuasa di dunia, melainkan bagi mereka yang paling ikhlas, yang hatinya bersih, dan yang mampu melepaskan dunia demi Allah semata.***

Pilihan Redaksi
spot_img

Berita Terbaru